aku masih saja di sini
di ketinggian menara jingga
menikmati senja
senja berwajah pucat
langit diam membisu guratkan duka-duka para dewa
sepi ~~
di ketinggian menara jingga
menikmati senja
senja berwajah pucat
langit diam membisu guratkan duka-duka para dewa
sepi ~~
melintas burung gagak bergaun hitam
menari indah kepakkan sayapnya yang kelam
tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan
ganjil ~
menari indah kepakkan sayapnya yang kelam
tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan
ganjil ~
angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku
ia sapa aku lembut
gagak itu masih menarikan tarian yang terluka
entah tentang apa ~
ia sapa aku lembut
gagak itu masih menarikan tarian yang terluka
entah tentang apa ~
ketika senja berangkat ke malam,
perlahan-lahan burung gagak menghentikan tariannya
menyimpan keganjilan
hening, ~
tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku.
aku belum tahu apa yang sesungguhnya gagak sampaikan padaku
malam ini seperti tak punya nafas.
tak ada angin yang meliukkan tubuhnya.
pohon-pohon diam.
tak kudengar desah dedauan
gunung-gunung membisu.
demikian juga dengan hamparan laut di depanku.
aku belum tahu apa yang sesungguhnya gagak sampaikan padaku
malam ini seperti tak punya nafas.
tak ada angin yang meliukkan tubuhnya.
pohon-pohon diam.
tak kudengar desah dedauan
gunung-gunung membisu.
demikian juga dengan hamparan laut di depanku.
diam.~
malam terbungkus kesunyian.
sehelai daun ilalang yang menua melayang di udara.
jatuh terkulai di tanah basah.
kesunyian kian lengkap~~
0 komentar:
Posting Komentar
Saya sangat menghargai komentar anda
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.