Senin, 15 September 2014

Abadi dalam Puisi

Malam bergumam pada rembulan
mengusik tawa dalam kenangan
menunggu bait di ujung jalan
temaram bulan setengah—menakutkan
serupa pedang tajam
keluar dari sarung—siap menghujam
sebelum aku mengerti
sebelum aku memahami
untuk membunuh mimpi
mimpi tersembunyi.
Sedang rindu terus beradu
sesakan dada mencipta ambigu
dalam cekungan mata
menatap nanar—semakin jauh dari asa
menyanggah luka pembuluh darah
hentikan waktu melumat kisah
cinta yang berjodoh dengan kesepian
terjerat dalam kalimat kalimat kepedihan
abadi pada tiap bait puisi
Yang senantiasa kutulis
*Love_Noe*
00.48 am

Minggu, 14 September 2014

Pelabuhan Hidup

Gelap yang kelam akan tiba dengan sendirinya.
Raga dan ruhmu akan lepas sejenak melayang menjadi mimpi.
Kibasan angin gelap merasuk menusuk setiap rongga kehidupan.
Perlahan namun sengit, menjamahi apa yang ada.

Terlupa sudah memori palsu itu.
Hanya terlewat takkan abadi.
Jiwa murka selalu ditengahi suka.
Perangai buruk akan terbentuk.

Kelam berubah.
Muram kalah.
Suram tak terjamah.

Tanda mulai mengatasi
Imaji jadi pasti.

Teori akan jadi kondisi sesungguhnya.
Terpikir dan terukir di pelipis mata.
Hilang sekejap namun akan kembali mengendap..

@02.25 am
"Good Nite World"
*_Noe*


Aku, Puisi dan Kehidupan

Di selasar malam yang panjang dan sepi.
Di lorong-lorong kosong,
dan gema tanpa suara.
Di dinding kelam,
di tepi tebing kehidupan terdalam.
Bayanganku membelah diri,
menjadi siluet hitam.
Di senja yang mendendam.
Karena kerinduan terus tertahan.
Lantaran cinta tiada terungkap kata.
Sebab rasa meresap putus asa tanpa sisa.

Ritmeku hilang nyali, lantas membunuh diri.
Menggorok leher dengan pisau puisi.
Cuma tinggalkan sajak tanpa jejak.
Bak rampok yang menguras habis sepusaka sakral inspirasi.

Setelah malam merampasnya dari dekapan mimpi.
Setelah gulatannya hanya peduli pada "barangkali"
Kejam cuaca menikungnya di lorong sepi.
Yang nyeri.

Di jalanan, hujan menangisi sebuah kehidupan.


Minggu, 14 Sept '14 (00.00 am)

*Love_Noe