Malam bergumam pada rembulan
mengusik tawa dalam kenangan
menunggu bait di ujung jalan
temaram bulan setengah—menakutkan
serupa pedang tajam
keluar dari sarung—siap menghujam
sebelum aku mengerti
sebelum aku memahami
untuk membunuh mimpi
mimpi tersembunyi.
mengusik tawa dalam kenangan
menunggu bait di ujung jalan
temaram bulan setengah—menakutkan
serupa pedang tajam
keluar dari sarung—siap menghujam
sebelum aku mengerti
sebelum aku memahami
untuk membunuh mimpi
mimpi tersembunyi.
Sedang rindu terus beradu
sesakan dada mencipta ambigu
dalam cekungan mata
menatap nanar—semakin jauh dari asa
menyanggah luka pembuluh darah
hentikan waktu melumat kisah
cinta yang berjodoh dengan kesepian
terjerat dalam kalimat kalimat kepedihan
abadi pada tiap bait puisi
Yang senantiasa kutulis
sesakan dada mencipta ambigu
dalam cekungan mata
menatap nanar—semakin jauh dari asa
menyanggah luka pembuluh darah
hentikan waktu melumat kisah
cinta yang berjodoh dengan kesepian
terjerat dalam kalimat kalimat kepedihan
abadi pada tiap bait puisi
Yang senantiasa kutulis
*Love_Noe*
00.48 am
00.48 am

0 komentar:
Posting Komentar
Saya sangat menghargai komentar anda
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.