Minggu, 14 September 2014

Aku, Puisi dan Kehidupan

Di selasar malam yang panjang dan sepi.
Di lorong-lorong kosong,
dan gema tanpa suara.
Di dinding kelam,
di tepi tebing kehidupan terdalam.
Bayanganku membelah diri,
menjadi siluet hitam.
Di senja yang mendendam.
Karena kerinduan terus tertahan.
Lantaran cinta tiada terungkap kata.
Sebab rasa meresap putus asa tanpa sisa.

Ritmeku hilang nyali, lantas membunuh diri.
Menggorok leher dengan pisau puisi.
Cuma tinggalkan sajak tanpa jejak.
Bak rampok yang menguras habis sepusaka sakral inspirasi.

Setelah malam merampasnya dari dekapan mimpi.
Setelah gulatannya hanya peduli pada "barangkali"
Kejam cuaca menikungnya di lorong sepi.
Yang nyeri.

Di jalanan, hujan menangisi sebuah kehidupan.


Minggu, 14 Sept '14 (00.00 am)

*Love_Noe



0 komentar:

Posting Komentar

Saya sangat menghargai komentar anda

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.