Selasa, 08 Maret 2011

Kesunyian

aku masih saja di sini
di ketinggian menara jingga
menikmati senja
senja berwajah pucat
langit diam membisu guratkan duka-duka para dewa
sepi ~~

melintas burung gagak bergaun hitam
menari indah kepakkan sayapnya yang kelam
tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan
ganjil ~

angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku
ia sapa aku lembut
gagak itu masih menarikan tarian yang terluka
entah tentang apa ~

ketika senja berangkat ke malam,
perlahan-lahan burung gagak menghentikan tariannya
menyimpan keganjilan
hening, ~

tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku.
aku belum tahu apa yang sesungguhnya gagak sampaikan padaku
malam ini seperti tak punya nafas.
tak ada angin yang meliukkan tubuhnya.
pohon-pohon diam.
tak kudengar desah dedauan
gunung-gunung membisu.
demikian juga dengan hamparan laut di depanku.
diam.~

malam terbungkus kesunyian.
sehelai daun ilalang yang menua melayang di udara.
jatuh terkulai di tanah basah.
kesunyian kian lengkap~~

Samar Jelas Tak Terbebas

ketika semua terasa membingungkan.
ketika semua mengakibatkan kebimbangan.
harus percaya siapa?
aku? mereka? kamu?
aku bingung.
aku tak ingin kembali ke masa lalu
tetapi aku tau, semuanya telah berubah.
hanya saja, semua susah untukku,
seperti terkurung dalam belenggu dan tak bisa terungkapkan.
hanya diam, dan mendengarkan semua orang yang berbicara.

siapa yang harus kupercaya?
aku? mereka? kamu?

sudah saatnya aku mendengar.
apa yang selama ini tak pernah ku dengar.
sudah saatnya kumelihat, apa yang selama ini tak kulihat.
dengan hati, mata hati.
aku tau aku harus percaya siapa.
hati~
hati kecil tanpa nafsu.
hati kecil, yang ingin terbebas dari belenggu.
bisa,~
aku bisa mendengar semuanya.
samar~
 iya, memang sedikit samar.
tapi aku terus mendengar. hingga jelas tak tersamar dan terdengar.
hingga membebaskan aku, dari belenggu tak berpintu.

Kisah Angin


Hembusan nafas mu
pada awan di kayangan
membuat mereka saling bercumbu
Dan melahirkan hujan
Geliat tarian mu
Membelai ranting dan dahan,
memadu cinta putik dan benang
walau dirimu tak pernah tersaksikan
Kau lempar debu ke udara
Kau terjang bahtera di samudera
Kau perintah bara yang menyala
Bila dirimu datang dan murka

Nyanyian Sukma

Di dasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata
sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,
Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit 
ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg tipis kainnya,
dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.
Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
Kepada siapa aku akan menyanyikannya?
Dia tersimpan dalam relung sukmaku
Kerna aku risau, dia akan terhempas
Di telinga pendengaran yang keras.
Pabila kutatap penglihatan batinku
Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
Dan pabila kusentuh ujung jemariku
Terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan.
Air mataku menandai sendu
Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahasia mawar layu.
Lagu itu di ubah oleh renungan,
Dan dikumandangkan oleh kesunyian,
Dan disingkiri oleh kebisingan,Dan dilipat oleh kebenaran,
Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
Dan difahami oleh cinta,
Dan disembunyikan oleh kesedaran siang
Dan dinyanyikan oleh sukma malam.
Lagu itu lagu kasih-sayang,
Gerangan manakah yang mampu membawakannya berkumandang?
Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati
Suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahsia perawan suci,
Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam, Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
Dan lantang menuturkan bisikan sanubari
Yang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan ?

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal


Kalaulah kegandrungan yang kunyatakan ini menarik perhatianmu
Atau tak berarti apa-apa bagimu
Maafkanlah aku. Namun di matamulah
Dalam lindup bayangannya, suatu petang aku bersandar 
Dan sebentar terhantar dalam tidur yang indah.
Dalam ketenangannya kubelai bulan dan bintang-bintang
Kuanyam kapal khayal dari kelopak-kelopak kembang
Dan kubaringkan jiwaku yang lelah di sana
Kuberi minum bibirku yang dahaga
Dan kupuaskan gairah mataku yang mendamba
Waktu kebetulan kita bertemu sebagai dua orang asing yang bertemu
Dukaku pun berjalan juga di jalan itu
Telanjang, tak terselubung
Dengan langkah murung…
Dan engkaulah dukaku itu
Kesedihan dan kegagalan
Kebisuan dan kekecewaan
Mengungkung penyair yang bergulat habis-habisan
Dibunuh kekosongan dan kehampaan.
Jiwaku gemetar ketika aku melihatmu
Aku merasa tiba-tiba seakan sebuah golok mengorek ke dalam darahku
Membersihkan hatiku, mulutku
Meniarapkan aku dengan kening kotor dan tangan meminta
Dalam lindap bayangan matamu