Alunan kisahku mengalir begitu deras, memaksa lirih perih tak bertepi..
syahdu aku seperti dulu, kini mulai tak terdengar.. entah terbawa arus kenistaan yg bergumul, atau mungkin mati terkikis pasir-pasir yang menderu.
titik embun mulai mengering tidak lagi patut untuk dipuja..
hmm.. apakah aku tidak lagi seperti itu?
begitu aku, kaku, rapuh, bias bayang malam pun berputar pagi, terperangkap terlalu dalam, terhanyut seperti sampan tak bertuan.. hendak kemana aku ini?
mata yang mulai lelah, hati yang mulai membusuk,
sanggupkah gelang yang patah ini kutemukan?
Sanggupkah gelang patah ini ku jadikan permata, kujadikan bunga, kujadikan apa saja yang bisa menyelimuti helai syair yang ku rajut..
Perlahan iba menghangatkan tubuhku… membakar cemburu… mengoyak amarahku…
Pahit menjadi madu biar tak terkuak sekalipun, ketika arah menjadi pecah.. ketika waktu menjadi mati.. sirna berserah bersimpuh rindu, tulus hati begitu dusta kuucapkan … tidak seorangpun memahaminya.
Rabu, 26 Oktober 2011
Rabu, 19 Oktober 2011
Cermin Hati
Mari, berdiri tegak
saling berhadap, saling tatap
dan mematutkan senyum
untuk kita dapat mengenali
perjumpaan ini untuk apa.
Aku tahu, rindumu adalah kilatan cahaya
sedang diriku adalah gelegar petir yang menyalak.
Berdiri tegak, saling berhadap
dari satu sudut, cahaya mentari mematut
kami, menutup rona-rona warna
menjadi kelabu-kelabu hitam,
kemudian dijatuhkan di atas tanah.
Bayangmu ada membekas dalam hatiku,
bayangku tersangkut pelita rindumu, tergambar
dalam rongga-rongga hatimu.
Kita telah bertukar bayang dalam cermin hati;
jejak perasaan dan beribu getar
yang selalu menghidupkannya
sehingga bisa kita kenal
diriku untuk dirimu
dirimu untuk diriku.
Sudah tanggal waktu, mengenali kita
semua terasai, kadang menggugah emosi
dan sesekali mendorong untuk
saling berpikir dan memikirkan;
aku padamu dan engkau padaku.
saling berhadap, saling tatap
dan mematutkan senyum
untuk kita dapat mengenali
perjumpaan ini untuk apa.
Aku tahu, rindumu adalah kilatan cahaya
sedang diriku adalah gelegar petir yang menyalak.
Berdiri tegak, saling berhadap
dari satu sudut, cahaya mentari mematut
kami, menutup rona-rona warna
menjadi kelabu-kelabu hitam,
kemudian dijatuhkan di atas tanah.
Bayangmu ada membekas dalam hatiku,
bayangku tersangkut pelita rindumu, tergambar
dalam rongga-rongga hatimu.
Kita telah bertukar bayang dalam cermin hati;
jejak perasaan dan beribu getar
yang selalu menghidupkannya
sehingga bisa kita kenal
diriku untuk dirimu
dirimu untuk diriku.
Sudah tanggal waktu, mengenali kita
semua terasai, kadang menggugah emosi
dan sesekali mendorong untuk
saling berpikir dan memikirkan;
aku padamu dan engkau padaku.
Selasa, 18 Oktober 2011
Untuk Pemilik Hati Ku
Manusia mencintai hidup dan membutuhkan sejarah,
ingin berbagi dan merindukan setiap gerak hati
untuk dicintai dan diperlakukan tulus.
Hidup bukan hanya pemberontakan,
seperti j nada-nada
bukan hanya nada tinggi saja,
apa yang kudengar dan apa yang engkau lantunkan
tidak akan berarti sama.
semua beralur.
Aku mengenal hidupmu, melihat gerak
dan pandang hatimu
bukan hanya akan memuja mu dengan lantunan sajak-sajakku.
Wahai Pemilik Hati ku …
jauh pandang engkau kuletakkan dalam selubung kerinduan
agar sosokmu terjaga dari gerak keliaranku
yang kadang ingin menindasmu.
jauh hati, engkau kupanggil sebagai inspirasi
bagai dewa keindahan yang dipuja untuk turun ke bumi
sebagai manggala dari kidung-kidung
yang menceritakan tentang gerak peradaban.
Wahai Pemilik Jiwa ku..
ada yang ingin aku katakan
ketika kita saling bertatap pandang;
pada akhirnya cinta itu ingin menyatakan
kemanusiaan, rasa kesetiaan dan dia
tidak hanya ingin mengerti,
tetapi dia juga ingin mengalami
segala apa yang menjadi dukamu, kerianganmu
dan segala keresahanmu.
Saat ini kita tautkan hidup
antara hati dan gerak pikiran.
aku mengalami dirimu dalam diriku
dan engkau pun mengalami diriku dalam dirimu.
Ketika itu nada-nada juga akan bersambut
dengan sajak-sajak
dalam untaian semangat untuk
membangun hidup yang penuh kecintaan.
ingin berbagi dan merindukan setiap gerak hati
untuk dicintai dan diperlakukan tulus.
Hidup bukan hanya pemberontakan,
seperti j nada-nada
bukan hanya nada tinggi saja,
apa yang kudengar dan apa yang engkau lantunkan
tidak akan berarti sama.
semua beralur.
Aku mengenal hidupmu, melihat gerak
dan pandang hatimu
bukan hanya akan memuja mu dengan lantunan sajak-sajakku.
Wahai Pemilik Hati ku …
jauh pandang engkau kuletakkan dalam selubung kerinduan
agar sosokmu terjaga dari gerak keliaranku
yang kadang ingin menindasmu.
jauh hati, engkau kupanggil sebagai inspirasi
bagai dewa keindahan yang dipuja untuk turun ke bumi
sebagai manggala dari kidung-kidung
yang menceritakan tentang gerak peradaban.
Wahai Pemilik Jiwa ku..
ada yang ingin aku katakan
ketika kita saling bertatap pandang;
pada akhirnya cinta itu ingin menyatakan
kemanusiaan, rasa kesetiaan dan dia
tidak hanya ingin mengerti,
tetapi dia juga ingin mengalami
segala apa yang menjadi dukamu, kerianganmu
dan segala keresahanmu.
Saat ini kita tautkan hidup
antara hati dan gerak pikiran.
aku mengalami dirimu dalam diriku
dan engkau pun mengalami diriku dalam dirimu.
Ketika itu nada-nada juga akan bersambut
dengan sajak-sajak
dalam untaian semangat untuk
membangun hidup yang penuh kecintaan.
Senin, 17 Oktober 2011
Lidah Tak Berludah
ku jamah tabir yang tersirat di ubun, terpecah hening berkarat biru..
kurobek sisa kisah yg berlalu, terbesit hati saat teriris...
kutanya api yg membara, terpaksakan naluri meramah hati..
kugenggam angin yang mendesir, kupatahkan semua tentangmu..
kutemui akhirnya kisah ini ..
ketika aku bagimu, ketika aku untukmu..
bagai lidah tak berludah bersua lemah semua merindu..
memang sejenak menyentuh kalbu, sedetik bertapak pilu, rayu membelenggu tetap saja remukan dada..
bahkan ketika lelap berkerumun datang lalu pergi.. biarkan saja sepi tetap abadi..
hanya sadari mata berkaca, tidak perduli pun aku sanggup..
hanya menunggu kau sakiti... ternyata arang tak lagi hitam..
sampai tiba kabut hinggap meresap tubuh, layu pilu karena tak tau aku yang selalu seperti bagimu, dan cerita ini tetap seperti itu..
lama waktu.. mencari hati yg terbagi,..
terhempaskan deru ombak membelai belahan jiwa, yg telah lama hilang....
kurobek sisa kisah yg berlalu, terbesit hati saat teriris...
kutanya api yg membara, terpaksakan naluri meramah hati..
kugenggam angin yang mendesir, kupatahkan semua tentangmu..
kutemui akhirnya kisah ini ..
ketika aku bagimu, ketika aku untukmu..
bagai lidah tak berludah bersua lemah semua merindu..
memang sejenak menyentuh kalbu, sedetik bertapak pilu, rayu membelenggu tetap saja remukan dada..
bahkan ketika lelap berkerumun datang lalu pergi.. biarkan saja sepi tetap abadi..
hanya sadari mata berkaca, tidak perduli pun aku sanggup..
hanya menunggu kau sakiti... ternyata arang tak lagi hitam..
sampai tiba kabut hinggap meresap tubuh, layu pilu karena tak tau aku yang selalu seperti bagimu, dan cerita ini tetap seperti itu..
lama waktu.. mencari hati yg terbagi,..
terhempaskan deru ombak membelai belahan jiwa, yg telah lama hilang....
Bunga Dalam Senja
Pernahkah mencintai api ?
Yang kobarnya memerahkan senja
Perciknya menggubah hangat
Namun tiada pernah bertuan
Bebas sebelum redup
Cahayanya memencar keindahan
Dalam kengerian ia berkobar
Ingatkah indah bunga?
Yang warnanya tentramkan mata
Harumnya tebarkan pesona
Hingga khayal tidak henti
Sebuah perbandingan keindahan
Pada semua makhluk ciptaan Tuhan
Dalam paradigma ia dibandingkan
Maka saat sabit bulan datang
Sinarnya pantulkan keindahan
Dari bunga dan api
Kobaran indah….
Dari harumnya kehilangan
Ketika bunga mencinta sang api
Dan mereka buta kan rasa
Keindahan itu menghilang
Dalam sebuah hasrat yang tertinggalkan
Sebuah kenangan akan percampuran
Keindahan yang mengerikan
Yang kobarnya memerahkan senja
Perciknya menggubah hangat
Namun tiada pernah bertuan
Bebas sebelum redup
Cahayanya memencar keindahan
Dalam kengerian ia berkobar
Ingatkah indah bunga?
Yang warnanya tentramkan mata
Harumnya tebarkan pesona
Hingga khayal tidak henti
Sebuah perbandingan keindahan
Pada semua makhluk ciptaan Tuhan
Dalam paradigma ia dibandingkan
Maka saat sabit bulan datang
Sinarnya pantulkan keindahan
Dari bunga dan api
Kobaran indah….
Dari harumnya kehilangan
Ketika bunga mencinta sang api
Dan mereka buta kan rasa
Keindahan itu menghilang
Dalam sebuah hasrat yang tertinggalkan
Sebuah kenangan akan percampuran
Keindahan yang mengerikan
Langganan:
Komentar (Atom)